Cara Mengatasi Kegagalan Dalam Kehidupan

Setiap orang mesti memiliki harapan karena dengan adanya harapan hidupnya merasa lebih baik, merasa mapan atau puas. Oleh sebab itu orang sering berjibaku berikhtiar, berkompetisi untuk meraih harapan. Akan tetapi tidak semua harapan itu selalu menjadi kenyataan meski sudah dilalui dengan kesungguhan usaha maupun doa. Apabila itu terjadi berarti kita sedang mengalami kegagalan.

Gagal memang virus yang yang selalu ditakuti bahkan dihindari karena gagal adalah kondisi antara harapan dan kenyataan tidak sama. Apabila kita mengalami kegagalan maka merasakan sedih, perih, berlimpang air mata, marah-marah. Hal itu wajar sebab reaksi emosional dalam menghadapi kegagalan. Yang menjadi persoalan adalah apabila kondisi kita berlatur-larut dalam kesedihan. Sebab menjadikan hidup menjadi tidak normal mudah terkena stress, depresi bahkan sakit dan itu jelas merugikan diri sendiri. Tentu kita tidak mau demikian ibarat jatuh masih tertimpa tangga.

Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana keluar dari kondisi seperti itu? Sebelum kita sampaikan bagaimana caranya, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu bila kegagalan bisa diartikan sebagai ujian atau musibah. Dalam surat Al-Baqoroh ayat 65 Allah berfirman : Inna lillahi wa inna illahi raji’un (sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepadanyalah kami kembali). Ayat ini sering dilontarkan apabila seseorang sedang mengalami atau melihat musibah kematian. Bagi penulis ayat ini sifatnya umum yang bisa dibaca saat melihat atau mengalami segala musibah seperti bencana alam, terkena sakit bahkan menghadapi kegagalan.

Sayangnya sebagian kita memaknai ayat di atas hanya sebuah teks dan hanya cukup dibaca melalui lisan. Padahal dibalik teks itu ada pesan, makna yang mampu mencerahkan pikiran dan hati. Oleh sebab itu hemat kami ayat di atas harus direnungkan, ditafsirkan tidak hanya dalam satu sudut pandang tapi bisa lebih dari itu karena Allah telah menganugerahkan akal sehat dan salah satu kinerja untuk mencerna, mengurai dan memahami sebuah teks.

Dalam memahami teks ayat Inna lillahi (sesungguhnya kami ini milik Allah) di atas penulis berpendapat datangnya kegagalan itu tidak lepas dari izin_Nya. Meski dipengaruhi dengan berbagai faktor tetapi faktor yang terkait, bisa jadi penentu dan segala yang menentukan lagi-lagi adalah Sang Khaliq. Kelanjutan ayat tersebut yaitu wa inna illahi raji’un (dan kepadanyalah kami kembali).

Saat datangnya kegagalan kita tidak bisa menolaknya. Padahal sebelumnya kita sudah berjuang sekuat tenaga, berikhtiar sungguh-sungguh, totalitas bekerja dari pagi sampai malem, belajar dari malem sampai pagi. ,tidur pun hanya dua atau tiga jam dalam sehari. Begitu pula dalam berdoa sering dimunajadkan dalam sholat fardhu, sholat tahajud, dhuha. Nah ketika harapan itu ditunggu-tunggu justeru yang datang malah kegagalan itu sudah bukan kuasa kita dan kita tidak bisa apa-apa.

Disinilah nampak kita adalah makhluk yang paling lemah. Oleh sebab itu kita sama Allah SWT diminta kembali kepada_Nya. Sayangnya saat kondisi seperti itu kadang kita tidak mau kembali dan justeru menjauh dari_Nya. Karena sebelumnya sudah merasa berusaha dekat agar permohonannya tercapai tapi belum dikabulkan. Namun sebaiknya kita berfikir ulang karena Allah pasti punya alasan kuat agar sang hamba untuk diminta kembali. Alasan kuatnya adalah manusia adalah selemah-lemah makluk. Maka dari itu manusia membutuhkan sandaran, membutuhkan pertolongan yang bisa membantu dan siapa lagi kalau bukan kepada Allah SWT.

Karena Allah itu Maka Perkasa (Al-Ayiyu), Maha Kuasa (Al-Jabaru), Maha Kuat ( Al-Khowiyu), Maha Kuasa (Al-Matinu) dan Yang Maha Membangkitkan (Al-Baistu). Inilah salah satu nama-nama Allah yang terangkum dalam Asmaul Husna. Selain itu Allah juga berfirman didalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 214 “ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat”. Dari sini sudah jelas baik yang tersurat dan tersirat bila Allah SWT yang hanya bisa menjadi sandaran dan menolong hamba keluar dari segala marabahaya, kesukaran dan kegagalan.

Kemudian bentuk ikhtiar kita kepada Allah SWT seperti apa ? Dalam surat Al-Baqoroh pula diayat 153 Allah SWT berfirman yang artinya :Hai-orang yang beriman mintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan sabar dan sholat. Dalam ayat ini kenapa sabar itu dinomor satukan sebab yang dimaksud dengan sabar disini adalah proses yang dapat diartikan serangkaian masa atau waktu dari awal hingga akhir. Dalam mengupayakan harapan itu butuh proses waktu tidak bisa sekejam kilat harapan terwujud, harapan tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.

Nah dalam proses tersebut diisi dengan perencanaan yang matang, sifat ketelitian, keuletan, kesungguhan, pantang menyerah karena kadang bisa jadi dalam rentan waktu sabar ada kegagalan. Sholat adalah salah satu aktifitas utama yang harus dilakukan dalam proses mewujudkan harapan.

Utama disini tidak hanya sekedar dilakukan sholat fardhu maupun sunah tetapi betul-batul dinomorsatukan mulai dari pelaksanaan, waktu, tempat dan adab-adabnya. Seperti anjuran untuk selalu sholat tepat waktu, berjamaah dilakukan di masjid dst. Selain itu dalam sholat pula jangan lupa lantunkan doa-doa yang menjadi harapan dengan sepenuh keyakinan baik dalam hati dan lisan Selain sholat masih ada aktifitas yang penting guna mendukung terwujudnya harapan misalnya belajar sampai titik faham, bekerja sepenuh hati dan pikiran dari pagi hingga malam, membangun jaringan dll.

Percayalah setiap upaya yang sungguh-sungguh tidak ada ruginya meski belum berhasil sebab akan menjadi pengalaman yang berharga karena tidak banyak orang berani melakukan hal seperti itu. Walaupun belum berhasil janganlah berhenti atau menyerah dalam berusaha yang sungguh-sungguh. lkhtiar kita harus digiatkan kembali sambil berfikir mengapa harapan sebelumnya belum terwujud dan dalam proses itulah segala kekurangan yang mengakibatkan belum berhasil kita tutupi sehingga mampu mewujudkan puzzle harapan.

Dan yakinlah setiap kegagalan yang dilanjutkan dengan kesungguhan ikhtiar mampu membuka keberhasilan. Hal ini sudah digariskan dalam surat Al-Insyiroh setiap kesukaran akan diganti kemudahan dan setiap kegagalan akan diganti dengan keberhasilan Insyallah amin.Wallahualam bishowab. (sangpencerah.com)

(Visited 217 times, 1 visits today)


« (Previous News)



2 Comments to Cara Mengatasi Kegagalan Dalam Kehidupan

  1. […] Cara Mengatasi Kegagalan Dalam Kehidupan […]

  2. […] Cara Mengatasi Kegagalan Dalam Kehidupan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*

%d blogger menyukai ini: