Dampak Erosi

Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain yang disebabkan oleh air atau angin.

Di daerah beriklim basah, erosi oleh air biasanya lebih penting dibandingkan dengan erosi oleh angin.

Sebagaimana yang sudah disampaikan di depan, bahwa erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman, disamping menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air.

Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan di tempat lain, seperti misalnya di alur-alur sungai, waduk, danau, saluran irigasi, di atas tanah pertanian, dan lain sebagainya.

Dengan demikian maka kerusakan yang ditimbulkan oleh peristiwa erosi terjadi di dua tempat, yaitu:

  1. pada tanah tempat erosi terjadi
  2. pada tempat tujuan akhir tanah yang terangkut tersebut diendapkan.

Secara lebih rinci dampak erosi disajikan pada Tabel 1.2 di bawah ini.

Tabel 1.2. Dampak erosi tanah (Arsyad, 1989)

 

Bentuk dampak Dampak di tempat kejadian erosi Dampak di luar tempat kejadian

Langsung

  • Kehilangan lapisan tanah yang baik bagi berjangkarnya akar tanaman
  • Kehilangan unsur hara dan kerusakan struktur tanah
  • Peningkatan penggunaan energi untuk produksi
  • Kemerosotan produktifitas tanah atau bahkan menjadi tidak dapat dipergunakan untuk berproduksi
  • Kerusakan bangunan konservasi dan bangunan lainnya
  • pemiskinan petani penggarap / pemilik tanah
  • Pelumpuran dan pendangkalan waduk, sungai, saluran dan badan air lainnya
  • Tertimbunnya lahan pertanian, jalan dan bangunan lainnya
  • Menghilangnya mata air dan memburuknya kualitas air
  • Kerusakan ekosistem perairan (tempat bertelur ikan, terumbu karang dan sebagainya)
  • Kehilangan nyawa dan harta oleh banjir
  • Meningkatnya frekuensi dan masa kekeringan

 

Tidak langsung

·       Berkurangnya alternatif penggunaan tanah

·       Timbulnya dorongan / tekanan untuk membuka lahan baru

·       Timbulnya keperluan akan perbaikan lahan dan bangunan yang rusak

·       Kerugian oleh memendeknya umur waduk

·       Meningkatnya frekuensi dan besarnya banjir

Kerusakan yang dialami pada tempat dimana erosi terjadi adalah berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisik tanah, seperti kehilangan unsur hara dan bahan organik dan memburuknya sifat-sifat fisik yang tercermin antara lain pada:

  1. menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air,
  2. meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah, dan
  3. berkurangnya kemantapan struktur tanah, yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan menurunnya produktivitas.

Hal ini disebabkan karena lapisan tanah permukaan setebal 15 sampai 30 cm ¾ yang tererosi ¾ mempunyai sifat-sifat kimia dan fisik lebih baik dari pada lapisan di bawahnya. Banyaknya unsur hara yang hilang tergantung pada besarnya kandungan unsur hara yang terbawa oleh sedimen dan besarnya erosi yang terjadi.

Secara kasar banyaknya unsur hara yang hilang dapat dihitung dengan mengalikan prosentase kandungan unsur hara tanah semula dengan banyaknya tanah yang tererosi.

Sebagai contoh (sumber Arsyad, 1989), misalnya suatu tanah Latosol Merah yang mengandung 0.17 % Nitrogen, 3,46 % bahan organik, 0,042 % P2O5, 0.008 % K2O dan 0.074 % Ca terjadi erosi sebesar 121,1 ton/ha dalam satu musim tanam, maka pada tanah tersebut terjadi kehilangan unsur hara sebanyak : 206 kg N, 4190 kg bahan organik, 52 kg P2O5, 10 kg K2O dan 90 kg CaO per hektar.

Contoh lain adalah suatu jenis tanah Latosol Merah Citayam (Suwardjo, 1981 dalam Arsyad, 1989) yang terbuka dan tidak ditanami selama 10 bulan mengalami erosi sebesar 524,5 ton/ha. Dengan berat volume rata-rata 1 gr/cm3, erosi tersebut ekivalen dengan 52,45 mm lapisan tanah. Dengan adanya erosi tanah tersebut diketahui telah terjadi :

  1. peningkatan berat volume tanah dari 0.93 gram/cm3 menjadi 1,05 gram/cm3, dan
  2. penurunan laju permeabilitas tanah dari 3.11 cm/jam menjadi 1.43 cm/jam.

Meningkatnya berat volume tanah menunjukkan bahwa tanah menjadi lebih padat, yang dalam contoh ini mengakibatkan meningkatnya ketahanan penetrasi tanah dari 14,5 kgF/cm2 menjadi 30,3 kgF/cm2; yang berarti bahwa perakaran tanaman makin sulit masuk ke dalam tanah. Laju permeabiltas tanah yang berkurang mengakibatkan semakin sedikit air hujan yang masuk ke dalam tanah dan semakin besar aliran permukaan.

Pengaruh tingkat erosi terhadap besarnya kemerosotan produksi tergantung pada jenis tanaman dan perubahan sifat-sifat tanah menurut kedalaman lapisan atas. Dari hasil berbagai penelitian yang ada di daerah pertanian jagung di Amerika serikat diketahui adanya hubungan antara besarnya erosi dan produksi jagung (Stalling, 1964, dalam Arsyad, 1989) sebagaimana diberikan pada tabel berikut:

Tabel 1.3. Pengaruh besarnya erosi terhadap penurunan produksi jagung

Kehilangan lapisan tanah atas Penurunan produksi jagung
5 cm 15 %
10 cm 22 %
15 cm 30 %
20 cm 41 %
25 cm 57 %
30 cm 75 %

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Suwardjo (1981; dalam Arsyad 1989), yang juga menunjukkan adanya penurunan produksi tanaman pertanian akibat pengaruh erosi tanah lapisan atas; hasil yang diperoleh diperlihatkan pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4. Pengaruh besarnya erosi terhadap penurunan produksi pertanian

Kehilangan lapisan tanah atas Jenis tanaman pertanian Penurunan produksi
1,1 cm Kacang tanah 2 %
2,2 cm Kedelai 14 %
3,5 cm Jagung 28 %
3,7 cm Ubi kayu 17 %

Catatan : tanah dipupuk

 

Sebagaimana yang sudah disampaikan di depan, bahwa dengan meningkatnya jumlah aliran air di permukaan dan mendangkalnya alur sungai ¾ erosi memperkecil permeabilitas tanah dan menyebabkan dangkalnya alur sungai ¾, akan mengakibatkan semakin seringnya kejadian banjir.

Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah juga mengurangi pengisian kembali air bawah tanah, sehingga peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari proses erosi.

Unsur-unsur hara dan bahan organik yang terbawa dalam peristiwa erosi dan kemudian diendapkan di dalam waduk dan danau juga akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi, yaitu proses pengkayaan yang dipercepat dari badan-badan air dengan unsur hara, yang mengakibatkan lebih cepatnya pertumbuhan vegetatif berbagai jenis mikroba dan tetumbuhan air (enceng gondok, dll).

Beberapa defenisi penting terkait dengan permasalahan erosi- sedimentasi

  1. Sediment Delivery Ratio

Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut dari suatu tempat yang tererosi secara umum disebut sebagai sedimen.

Tidak semua sedimen yang terangkut akan masuk ke dalam sungai atau terbawa ke luar dari suatu daerah aliran sungai, karena ada sebagian dari sedimen tersebut akan terendapkan lagi di tempat lain pada permukaan tanah.

Perbandingan antara jumlah sedimen yang betul-betul terbawa oleh aliran sungai terhadap jumlah tanah yang tererosi pada suatu daerah aliran sungai disebut sebagai Sediment Delevery Ratio, SDR.

Nilai SDR mendekati satu berarti bahwa semua tanah yang tererosi masuk ke dalam sungai; hal ini hanya mungkin terjadi pada daerah aliran sungai yang kecil dan tidak mempunyai daerah-daerah datar atau yang mempunyai lereng-lereng curam, mempunyai kerapatan drainase yang tinggi, dan tanah yang terangkut mempunyai banyak butir-butir halus, atau secara umum dikatakan bahwa daerah tersebut tidak memiliki sifat yang cenderung menghambat pengendapan sedimen di dalam daerah aliran sungainya.

Makin luas suatu daerah aliran sungai, makin kecil nilai SDR. Nilai SDR sebagai fungsi luas daerah aliran sungai diberikan pada Tabel 1.5.

Tabel 1.5. Pengaruh Luas Daerah Aliran Sungai terhadap nilai Sediment Delivery Ratio.

Luas Daerah Aliran Sungai (km2) Sediment Delivery Ratio (%)

0.05

0,1

0,5

1,0

5,0

10,0

50,0

100,0

200,0

500,0

1.000,0

58,0

52,0

39,0

35,0

25,0

22,0

15,3

12,7

11,0

7,9

5,9

Sumber: Kirby and Morgan (1980)

  1. Enrichment Ratio

Dalam peristiwa erosi, fraksi halus dari tanah akan terangkut terlebih dahulu, dan jumlahnya lebih banyak dari pada fraksi kasar, sehingga sedimen yang terangkut biasanya mempunyai kandungan lempung yang lebih tinggi dari pada tanah asli. Kejadian ini disebut sebagai selektivitas erosi, dan tanah yang telah mengalami erosi biasanya mempunyai  tekstur tanah yang lebih kasar.

Proses selektivitas erosi berkaitan dengan daya angkut aliran permukaan terhadap butir-butir tanah yang berbeda berat jenisnya.

Disamping itu, sedimen hasil erosi biasanya mempunyai kandungan unsur hara dan bahan organik yang lebih tinggi dari pada tanah yang tertinggal.

Hal ini sebagian disebabkan oleh karena peristiwa selektivitas erosi, dan sebagian lagi disebabkan oleh karena lapisan atas tanah mengandung lebih banyak unsur hara dari pada lapisan tanah bawah.

Perbandingan antara kandungan unsur hara dan bahan organik dalam sedimen yang terbawa erosi terhadap kandungan unsur hara dan bahan organik dalam tanah yang tertinggal disebut perbandingan pengkayaan (enrichment ratio). Makin besar nilai ER, makin cepat pemiskinan tanah terjadi.

Enrichment ratio memberikan petunjuk tentang tingkat atau kecepatan pemiskinan tanah, dan merupakan petunjuk apakah kehilangan unsur hara merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas tanah atau tidak. Enrichment ratio (ER) sedimen dapat dinyatakan dalam persamaan :

dimana Cus adalah konsentrasi unsur hara (atau bahan organik) dalam sedimen yang telah terangkut, dan Cut adalah konsentrasi unsur hara (atau bahan organik) pada tanah yang tertinggal.

Source : Bahan Kuliah

(Visited 150 times, 1 visits today)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*

%d blogger menyukai ini: