14 Cara Penanganan Air Limbah dan Air Hujan

Lingkungan

Banjir, disebabkan oleh air yang tidak meresap ke tanah karena terlalu banyak melimpas ke selokan, sungai dan sistem drainase yang tak mampu menampung air hujan.

Mindset kita selama ini adalah bagaimana caranya membuang air limbah dan air hujan secepat mungkin disalurkan ke selokan, kali, sungai dan berakhir di laut dan itu merupakan cara konvensional. Kalau hal itu kita lakukan terus menerus maka sumber daya air di dalam tanah cepat terkuras habis. Akibatnya banjir di musim penghujan, kekeringan di musim kemarau dan instrusi laut/masuknya air laut ke daratan.

Pola pikir tersebut yg kita pakai selama ini harus dirubah. Harusnya air limbah rumah tangga dan air hujan wajib dikembalikan ke tanah. Sehingga persedian air tanah tetap terjaga

Setidaknya ada 14 cara penanganan air limbah dan air hujan, yang bisa kita lakukan :

1. Sumur resapan. Jangan dikira hanya 1 sumur resapan dapat menyelesaikan masalah. Harus diukur dulu kapasitas air hujan yang maksimum terjadi seberapa besar? Satu kompleks bangunan sebesar Grand Indonesia butuh lebih dari 100 sumur resapan. Sumur resapan juga tergantung lokasi, kalau tanahnya liat (clay), berada di daerah pantai, atau muka air tanah dangkal, solusi dengan sumur resapan tidak efektif.

Sumur Resapan

2. Biopori. Sering kita mendengar program “Pembuatan SEJUTA lubang Biopori”. Pertanyaanya, siapa yang ngebor?? Kalau sudah ngebor, siapa yang ngurus? Tahukah anda kalau Biopori itu tidak hanya sekedar mengebor saja. Membuat Biopori haruslah melihat jalur aliran air, paling bagus ditempatkan di saluran. Trus, waktu untuk membuat 1 lubang bisa sekitar 15 – 30 menit, capek lho (banyangin kalau bikin sejuta akan makan waktu berapa lama). Trus, jangan lupa lubang harus senantiasa diisi dengan sampah organik, agar pori2 tanah bisa terbuka oleh cacing2 tanah yang makan sampah tersebut. Kalau gali di tanah yang gak ada cacingnya atau gak dimasukin sampah, percuma. Biopori bagus untuk skala rumahan di lingkungan padat, borlah saluran air depan rumahnya (yang biasanya disemen semua).

Biopori

3. Penampungan air hujan. Kalau tinggal di kota pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, air hujan sering dicela-cela, misalnya berkata “Yaaaaahhhh….Hujaaaannn…” atau “Sialaann….pake hujan segala”. Kalau di pulau-pulau kecil seperti di Wakatobi, atau di pulau Panggang, hujan adalah berkah karena sekelilingnya laut, sumber air yang bisa diminum adalah air hujan. Menangani air hujan sudah pasti akan mengurangi debit air yang dibuang menjadi banjir. Setelah ditampung, air hujan dapat digunakan untuk berbagai hal saat hari sedang tidak hujan, misalnya: Menyiram tanaman, mengisi air kolam ikan, bersih-bersih tembok rumah, dll. Kalau tinggal di daerah industri, atau dekat dengan lalu lintas kota, air hujan 5 menit pertama atau bisa juga 3 mm pertama, sebaiknya dibuang (bisa buang ke tanaman), karena mengandung asam dan karbon dari polusi udara. Baru setelah itu digunakan untuk berbagai manfaat.

Penampungan Air Hujan

4. Kolam Resapan. Yang ini lebih canggih dari sumur resapan. Syaratnya, kalau sedang tidak hujan, kolam harus KERING!! Kalau tidak kering, namanya danau atau waduk. Pada saat kering, lumpur bisa dibersihkan. Jangan menjadikannya sebagai kolam ikan, karena kalau kolam kering, ikannya mati. Ibarat banjir, daerah kolam resapan memang sengaja DIBANJIRI. Bayangkan ada celukan beralaskan tanah/rumput seluas lapangan badminton, yang memang sengaja dibanjiri kalau sedang hujan.

Kolam Resapan

5. Taman Hujan. Mirip dengan kolam resapan, namun bentuknya bukan celukan, melainkan taman yang indah. Air hujan sengaja dialirkan melalui taman ini agar “sempat” menyerap ke tanah, walau perlu juga overflownya. Jadi rute airnya: Air hujan -> talang -> got -> tanam hujan -> got -> sumur resapan/kolam/dll. Nama kerennya Rain Garden atau Bio retention.

Taman Hujan

6. Bioswales. Pernah lihat got tetapi hanya berupa celukan, tanpa disemen, dan ditumbuhi rumput? Nah, itu namanya Bio swales. Jadi, air hujan selain mengalir di got, dia juga menyerap ke dalam tanah. Yang menyebabkan menyerap adalah akar-akar rumput yang membuat rongga tanah terbuka. Tanam saja rumput vetiver yang punya daya serap cukup kuat. Ingat, harus KERING kalau sedang tidak hujan, jadi limbah cucian jangan dibuang ke got ini.

Bioswales

7. Roof Garden. Penanganan air hujan dengan membuat taman di atap juga menjadi salah satu solusi mengurangi debit air hujan yang membuat banjir di kota. Syaratnya, harus didesain dari awal pembangunan. Karena perlu diperhitungkan juga beban tanah yang cukup berat, ditambah beban air saat hujan nanti. Prinsipnya adalah: Air hujan jatuh di atas tanah -> menyerap ke tanah yang seperti spons -> Menguap lagi saat tidak hujan. Hal yang harus diperhatikan adalah harus ada blok drainase dibawah tanahnya, agar air berlebih dapat dibuang. Green Building Design

Roof Garden

8. Tanam Pohon Rindang. Tahukah anda mengapa pohon trembesi disebut Ki Hujan? Kalau tidak tahu, tanya Mbah Google. Kenapa green? Karena air hujan banyak yang tertahan di daun-daun dan menghambat jatuh ke tanah. Terlebih lagi, daun dan batang pohon juga mampu menyerap air. Sehingga, solusi menanam pohon rindang, sangat Green. Jangan lupa dirawat pohonnya, jangan ditebang seluruhnya, pangkas sedikit-dikit agar rapi juga bagus supaya tidak terlalu “gondrong”. Ibaratkan pohon itu adalah rambut bagi lahan kita.

Tanaman Pohon Rindang

9. Grass Block. Perlu lahan parkir, tapi juga yang dapat menyerap air, gunakan saja Grass Block daripada menggunakan aspal. Dengan ini, air hujan dapat menyerap ke tanah dibawahnya. Lakukan perawatan juga, jangan sampai rumputnya hilang atau rumputnya terlalu “gondrong”. Jangan gunakan grass block untuk pedestrian atau jalan raya, karena akan menyulitkan para wanita yang bersepatu hak.

Grass Block

10. Infiltration trench. Jangan pikir batu-batu kerikil di bibir taman/got/jalan hanya sebagai penghias. Batu di bibir got memiliki fungsi untuk menghambat air agar jangan langsung rebutan masuk ke got. Air yang masuk ke bebatuan tersebut sebenarnya juga masuk lebih dalam, sehingga berfungsi mirip seperti sumur resapan. Ada juga yang menyebutnya French drain.

Infiltration Trench

11. Perkerasan berpori. Fungsi got di jalan raya untuk mobil adalah untuk membuang air hujan yang ada di jalan. Karena, jalan harus senantiasa kering agar aspal/beton tidak rusak. Sekarang sudah ada teknologi beton berpori atau ikatan resin (resin bound), yang memungkinkan air hujan menyerap ke dalam perkerasan, lalu menghambat laju airnya yang selebihnya dibuang ke got/tanah. Dengan ini, jalan raya tidak menyumbang air untuk banjir di perkotaan.

Perkerasan Berpori

12. Kolam detensi. Kolam detensi bukanlah kolam resapan. Dia hanya bersifat menahan (detensi) . Sumur/kolam resapan juga bisa bersifat detensi. Berbeda dengan kolam penampungan air hujan bersifat menyimpan (retensi). Bedanya dengan sumur resapan yang harus kering kalau tidak hujan, kolam detensi harus berisi dan memiliki biota tetap didalamnya. Kolam ini bisa berbentuk kolam ikan, kolam teratai, yang kapasitasnya sekitar 50% volumenya, saat hujan bisa meningkat menjadi 70-80% kapasitas, yang memiliki semacam pintu air agar volume bisa kembali ke 50%. Secara alamiah, waduk berfungsi sebagai kolam detensi (makanya dulu Belanda bikin banyak waduk di sekeliling jakarta).

Kolam Detensi

13. Sel drainase (Drainage cell). Sekarang sudah ada produk yang berupa paket blok-blok atau sel penampungan air hujan, yang bisa ditanam di tanah ataupun ditempatkan dibawah jalan raya. Sehingga, dapat mengurangi tempat untuk lahan yang terbatas. Seperti main Lego saja, bisa disusun bentuknya sesuka hati, bisa mulai bentuk kotak, hingga jajaran genjang. Fungsinya mirip sumur resapan.

Drainage cell

14. Manajemen saluran air. Got atau saluran drainase buatan idealnya adalah mengalirkan air pada saat adanya beban. Jadi istilah Banjir kanal seharusnya hanya terisi air saat hujan. Kalau sudah penuh terisi air saat tidak hujan, banjir kanal tidak berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Coba kita lihat bersihnya banjir kanal di Singapura yang saya foto ini pada saat kering, dan kondisinya pada sesaat setelah hujan sangat deras.

Banjir Kanal

 

Source : https://web.facebook.com/saputra.ferry?pnref=story

Sumber Pic : google search

(Visited 225 times, 1 visits today)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*

%d blogger menyukai ini: