Community Development Environment

Community Development : dapat diartikan sebagai Social Engineering dengan pengertian untuk tujuan peningkatan kemampuan & daya tahan masyarakat dalam menghadapi tantangan kehidupannya dalam rangka merealisasikan cita-cita pembangunan masyarakat.

Adapun makna & tujuan  pembangunan masyarakat adalah terciptanya kesejahteraan yang berkedaulatan, berkeadilan, berkelanjutan dalam kemakmuran bagi anggota masyarakat dan generasi penerusnya.

Untuk itu perlu melalui program “Community Education” yang mana sasaran utamanya adalah merubah pola dan cara pikir (mindset) masyarakat terhadap suatu permasalahan.

Dalam hal ini objectivenya berupa :

  1. Peningkatan kesadaran (awareness)
  2. Penumbuhan keinginan (willingness)
  3. Penguasaan pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan kemampuan dalam arti soft skill
  4. Peningkatan kemampuan didalam melahirkan kebijakan dan tindakan “non structural” untuk usaha penyelesaian masalahnya, sekaligus manajemen asset yang dikuasai untuk optimalisasi daya guna/ pemberdayaan asset.

Itu semua dalam konteks memupuk modal sosial.

Adapun didalam kesehariannya modal sosial tersebut berupa adanya :

  • Tradisi
  • Institusi Masyarakat (Informal/nonformal Institution)
  • Rencana strategis desa

Kesemuanya dapat digunakan sebagai kontribusi didalam pembangunan dengan semangat kemandirian. Arti khususnya : sebagai modal masyarakat didalam berpartisipasi melalui konsep “bottom up”, sebagai balancing konsep “top down”.

Dari pandangan teori kaidah ‘rekayasa sosial’ menempatkan masyarakat sebagai obyek para ahli, dimana masyarakat : direncanakan, diarahkan, dibina dan dikontrol untuk berpartisipasi menurut kehendak para ahlinya.

Dalam pengertian teoretisasinya ‘otoritas kebenarannya’ berada pada pendapat para ahlinya, sehingga sangat boleh jadi didalam praktek hal ini berbeda dengan keinginan masyarakatnya.

Dengan demikian ‘rekayasa sosial’ dapat berakibat fatal apabila mengarah pada hilangnya keselarasan dengan potensi dan identitas masyarakatnya. Namun apabila ‘rekayasa sosial’ tersebut dapat selaras dengan potensi dan identitas masyarakatnya maka tindakan ‘rekayasa sosial’ dapat menjadi ‘ekselerator’ pembangunan masyarakat. Dengan demikian Pengembangan Masyarakat dapat diartikan suatu ‘rekayasa sosial’ yang searah denga potensi dan jati diri masyarakatnya.

Adapun teori ‘rekayasa sosial’ itu sendiri terbagi menjadi :

  • Structural, artinya mengandung kerangka pikir yang beralur jelas-logis.
  • Sistemik, artinya mengandung proses interaksi bertahap dari semua komponen yang terkait

Oleh sebab itu dalam PM harus mengandung unsur :

  • Perencanaan, yang intinya mengangkat nilai nilai kemanusiaan mengikuti alur “road map” yang berbasis pada keadaan “pikiran & perasaan” masyarakat, atau dalam istilah umumnya tercermin dari “kemauan & nilai nilai tradisi” atau kearifan local masyarakatnya. Hal ini dapat tertuang dalam aturan tertulis maupun tidak tertulis yang ada didalam masyarakat.
  • Tindakan aksi sebagai proses perubahan (dalam konteks PM), yang bertumpu pada “kesadaran” yang direalisasi dengan adanya partisipasi public dalam tindakannya.

Teorinya dapat melalui :

  • Pemberian contoh, melalui pilot proyek atau demonstration plot tempat
  • Penumbuhan motivasi, melalui penyuluhan guna mendorong munculnya keinginan & ide
  • Pendorong semangat, melalui penghargaan dengan harapan akan semakin giat bekerja.

Sumber : Catatan Kuliah Comdev dalam Pengelolaan Air dan Air Limbah oleh Ir. Darmanto, Dip.HE., M.Sc

Gambar : eriorizqi.blogspot.com

(Visited 9 times, 1 visits today)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*

%d blogger menyukai ini: