[Guest Post] Tidak Senyaman Dahulu

Seperti biasanya, saya harus bangun pagi sebelum ayam jantan membangunkan saya, sudah menjadi rutinitas yang tidak pernah saya lakukan sewaktu saya masih sendiri (belum menikah) kira-kira tiga belas tahun lalu. Puncak kesibukan di rumah adanya pada saat pagi hari, karena harus mengurusi tiga jagoan yang harus ke sekolah. Dan memang sejak tiga jagoan mulai di bangku sekolah tidak pernah luput untuk diantar langsung ke sekolah. Kalau kebijakan pemerintah memberikan toleransi kepada Aparatur Sipil Negara disetiap awal tahun ajaran baru, boleh tidak mengikuti apel pagi karena di tuntut untuk mengantarkan anak ke sekolah, maka saya seharusnya mendapat reward karena setiap hari mengantar anak ke sekolah.

Hari ini saya terdorong untuk sedikit mencurahkan uneg-uneg, karena pagi tadi anak saya terlambat sampai ke sekolah yang berjarak kurang lebih lima kilometer. Pasalnya dengan jarak demikian ternyata pagi tadi saya harus tempuh kurang lebih dua puluh menit, demikian pula siang tadi ketika saya pulang istirahat dan kembali ke kantor, saya harus tempuh kurang lebih dua puluh menit. Namun waktu tempuh tadi siang dapat saya maklumi karena saya membuntuti sebua bus kota dengan kecepatam kurang lebih lima belas kilometer per jam, belum termasuk sesekali harus berhenti karena adanya kendaraan lain (bentor, minibus, motor dsb) di depan juga adanya dua persimpangan dengan rambu bersignal. Kita tau bersama kalau bus kota kurang memiliki manuver yang baik di jalanan kota, mungkin faktor badan yang besar sehingga menyulitkan untuk bergerak.

Keinginan untuk mencurahkan uneg-uneg, di picu karena perjalanan yang biasanya saya tempuh tidak kurang dari sepuluh menit, ternyata beberapa waktu belakangan mulai dirasa waktu tempuhnya bertambah, situasi ini menimbulkan tanya dalam alam pikir saya, apa penyebab sehingga waktu tempu yang biasanya tidak kurang dari sepuluh menit, saat ini mulai terjadi perlambatan dan waktu tempuh bertambah.

Baca Juga :  Catatan Kecil di Hari Ulang Tahun.............

Pertanyaan tersebut seharusnya di lakukan penelitian secara menyeluruh, karena sesuatu yang terjadi perubahan, tentu ada faktor pemicu sehingga sesuatu itu bisa berubah. Namun secara sederhana dan dengan kacamata awam, saya coba mengidentifikasi faktor-faktor pemicu sehingga waktu tempuh perjalan sudah berubah, antara lain (1) kendaraan yang semakin hari semakin bertambah, sehingga volume kendaraan di jalan semakin tinggi (estimasi saya pertambahan jumlah kendaraan sekitar delapan persen per tahun). (2) kapasitas jalan masih tetap (tidak bertambah), (3) manajemen yang belum maksimal.

Ketiga faktor pemicu tersebut, masih berupa garis besar, karena kalau diamati lebih dalam banyak faktor yang menyertainya, diantaranya banyaknya hambatan samping di jalanan karena tingginya tarikan lalulintas namun tidak di barengi dengan penyediaan lahan parkir yang memadai, pengaturan rambu bersignal di persimpangan yang menurut hemat saya kurang memenuhui sebagaimana yang diatur dalam Manual Kinerja Jalan Indonesia (MKJI 2007), sehingga lampu bersignal menambah tundaan perjalanan yang semakin lama. Kendaraan yang keluar masuk ke tempat adanya tarikan kendaraan juga memicu tundaan kendaraan, dan terakhir moda bentor dengan jumlah yang tidak terkendali dengan pergerakan lambat dan manuver kurang memberi kontribusi yang besar terjadinya perlambatan perjalanan.

Uraian tersebut hanya beberapa situasi yang mulai dirasakan di dalam kota, terutama Jl. Adampe Dolot sampai ke Jl. Ahmad Yani. Bagi saya, yang menjadi tanda awas saat ini ketika mulai dioperasionalkannya bus kota, karena halte-halte untuk mendukung keberadaan bus kota sudah mulai dibangun. Pengalaman siang tadi yang hanya membuntuti satu bus waktu tempuh yang biasanya saya dapat tempuh sepuluh menit, bertambah menjadi sekitar dua puluh menit. Bagaimana ketika seluruh bus mulai dioperasionalkan dan tidak dibarengi dengan manajemen yang memadai, terutama pengaturan bentor yang saat ini menjadi penyumbang utama mulai terjadi kemacetan jalan, terutama Jl. Adampe Dolot.

Baca Juga :  Night [at] Buntalo Village

Bila mendiskusikan manajemen jalan, terutama tentang keberadaan bentor, bus kota dan keberadaan halte bus yang lagi dibangun, tentu akan terjadi debat table, karena setiap kita akan memberikan argumentasi sesuai perspektif kita masing-masing, namun secara sederhana ketika berbicara tentang manajemen jalan hanya ada rumus sederhana yaitu tentang V/C (volume/capacity). Ketika volume tinggi berarti penambahan kapasitas, namun ketika kapasitas jalan tidak dapat ditambah maka pengurangan volume.

Khusus pengaturan bentor, ketika tidak dapat dikendalikan karena faktor sosial, maka sudah saatnya kita mengatur pergerakannya diatas jalan, menurut hemat saya, sudah saatnya bentor diberikan lajur sendiri, karena selain pergerakannya lambat, juga manuvernya sangat terbatas, dan secara perlahan ruang geraknya mulai dibatasi dan pada akhirnya bentor akan kembali kepada khitanya sebagai moda yang hanya menghubungkan antara permukiman dan ke halte-halte yang sudah disiapkan.

Khusus halte yang saat ini lagi dibangun, untuk saat ini saya belum mau memberikan analisis, apakah sudah betul ataukah hanya akang menambah kesemrautan kota. Namun tentu kita dapat membayangkan ketika bus mulai dioperasionalkan berapa banyak user yang akan memanfaatkan moda angkutan kota tersebut ditengah-tengah jumlah bentor yang sangat banyak disertai pelayanan bentor yang door to door.

Ketika zaman saya sekolah dahulu, naik kendaraan hanya dengan sekejap sudah tiba ditujuan, namun saat ini tentu situasinya berbeda sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan kota. Saya teringat dengan seorang dosen yang pernah menyampaikan bahwa, masyarakat Indonesia sangat terkenal dengan keramah-tamahannya, ketika mengunjungi teman pasti semua yang terbaik di rumah akan disajikan, namun kondisi berbeda ketika di jalanan, semua tatanan tata krama dan etika pasti hilang karena di jalanan bukan lagi hukum sosial yang berlaku, namun sudah hukum rimba yang dijalankan, siapa yang lebih cepat dan kuat dia pasti yang menguasai jalanan.
Ternyata jalanan Kota Kotamobagu tidak senyaman dahulu….

Baca Juga :  Sebuah Renungan .....

Profil penulis:
Artikel Guest Post kali ini merupakan tulisan dari Moh. Radjiman Ododay, ST, MT. Ia adalah pemerhati Transportasi Kota. Saat ini menjadi Kepala Bidang Kawasan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Kotamobagu selalu siap berbagi apapun seputar Transportasi Kota melalui Facebook

Gambar Header : Google Search

Berbagi Artikel
Rate this article!
Tags:

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.